Posted by: dhyba | July 22, 2008

Macet? Nikmati saja

Berkendara sepeda motor adalah sebuah aktivitas rutin yang saya lakukan, dari rumah menuju kantor dan sebaliknya. Kemacetan tentunya menjadi sarapan pagi yang mau tidak mau harus dilahap. Permasalahannya adalah bagaimana menyikapi kemacetan ini?

Setiap orang punya caranya sendiri-sendiri. Saya yang mulai terbiasa dengan hal semacam ini menikmati saja meskipun pernah telat akibat kemacetan tambahan di luar perhitungan. Saya berpikir, kalau kita emosi, tidak sabar, ngedumel, toh kita tetap terjebak dalam kemacetan. Jadi, nikmati saja kemacetan itu.

Namun, ada yang bikin saya kesal. Itu lho, perilaku berkendara yang tidak mengenal kata disiplin. Yang paling sering saya lihat adalah pengendara sepeda motor yang seenaknya naik ke trotoar yang sedianya diperuntukkan untuk pejalan kaki. Saya adalah seorang biker, tetapi saya sangat tidak suka dengan biker yang menyalahgunakan fungsi trotoar dan melanggar rambu lalu lintas.

Setiap orang memang punya kepentingan. Saya harus sampai kantor maksimal jam delapan tiga puluh. Orang lain mungkin ada janji dengan klien. Yang lain punya kepentingan juga. Semua punya kepentingan. Tapi, kalau ternyata untuk memenuhi kepentingan itu harus mengganggu kepentingan umum, maka kita sudah salah dalam bertindak. Tidakkah kita berpikir keterlambatan kita sampai di kantor, ketidakbisaan kita tepat waktu menemui klien, bisa jadi ada faktor kita di dalamnya. Maksudnya adalah tidak layak bagi kita menyalahkan sepenuhnya kondisi lalu lintas yang macet dan semrawut yang menyebabkan kita tidak bisa memenuhi kepentingan yang sudah kita set sebelum berangkat. Sudah tahu setiap hari Jakarta macet, mbok ya berangkat lebih awal, lebih pagi. Ketika kita tidak mampu berangkat lebih awal dan akhirnya terjebak dalam kemacetan, maka jangan sekali-kali menyalahkan kemacetan. Nikmati saja keterlambatan kita, toh keterlambatan kita itu juga akibat kita telat berangkat. Kalaupun kita sudah berangkat lebih pagi dan tetap terlambat sampai tujuan, maka sekali lagi nikmati saja. Paling-paling potong gaji. Paling-paling klien kita kabur. Nikmati saja.


Leave a response

Your response:

Categories