Posted by: dhyba | July 23, 2008

Jilbab Seksi?

Mulai bermunculannya artis-artis yang memakai jilbab merupakan sebuah fenomena yang patut kita syukuri. Bagaimana seorang Inneke Koesherawati yang secara total hijrah dari masa kelamnya menuju cahaya Allah yang ditunjukkan dalam bentuk menutup aurat, merupakan sebuah contoh yang baik bagi kita, khususnya bagi para artis yang selama ini lebih mempertontonkan keindahan fisiknya ketimbang kemampuannya berakting. Inneke Koesherawati adalah satu dari sekian artis yang mampu melakukan hijrah secara total. Semoga Allah tetap memberikan keteguhan dan hidayah kepadanya dan tentunya kepada kita semua.

Sekarang juga muncul nama seperti Zaskia Adya Mekka. Bagi saya, alhamdulillah saja sudah banyak artis dan masyarakat muslimah umumnya yang mulai mengenakan jilbab. Tapi…….., ada tapinya nih…, banyak di antara teman-teman muslimah kita yang tidak memahami betul apa itu jilbab. Terus terang, saya sedih bercampur kecewa ketika melihat muslimah kita yang cantik mengenakan jilbab namun dari sisi pakaian malah mempertontonkan lekuk-lekuk tubuhnya. Ada yang pakai baju yang sangat ketat sehingga, maaf, bentuk payudaranya terlihat. Ada juga yang mengenakan celana jeans yang ketat yang sekali lagi, maaaaaf, bentuk bokongnya terlihat. Saya yang jadi laki-laki saja malu melihat yang seperti itu.

Setahu saya, yang namanya berjilbab itu tidak hanya sekedar menutup kepala dengan selembar kain lalu dililitkan di leher, bukan itu. Yang namanya berjilbab, atau istilah lainnya “berhijab” adalah menutup aurat secara menyeluruh sehingga tidak tampak bentuk tubuhnya yang vital yang seharusnya tidak boleh dilihat orang lain yang bukan mahramnya. Aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali muka dan dua telapak tangan.

Mungkin ada orang yang akan berkata, “Sudahlah, pakai jilbab saja sudah bagus, daripada engga.” Oke, di satu sisi itu ada benarnya, namun di sisi lain ini akan sangat berbahaya, apalagi yang mengenakannya adalah orang yang jadi pusat perhatian, tentu akan dijadikan contoh. Nah, di sinilah permasalahannya, orang akan menganggap bahwa yang seperti itu sudah benar. Akhirnya malah jadi tren.

Sekarang ini kan kebenaran itu sering dilihat dan diputuskan dari seberapa besar pendukungnya. Yang salah bisa jadi benar kalau mayoritas orang mendukung, sebaliknya yang benar akan dicap salah hanya karena yang benar ini kalah suara dibandingkan dengan yang salah.

Mohon maaf, bagi saya tidak ada bedanya antara mereka yang berpakaian ketat dengan mereka yang berjilbab namun tetap berpakaian ketat. What’s the different? Saya lebih suka mereka yang tidak berjilbab tetapi berpakaian tertutup dan pakaian yang digunakannya tidak membentuk lekuk-lekuk tubuhnya, apalagi kalau akhirnya mereka berjilbab.

Nah, tentunya ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Perlu ada penyadaran namun dengan cara yang santun dan tidak menyinggung perasaan. Mereka sudah punya niat yang baik untuk berjilbab, alangkah lebih sempurna lagi jika mereka menyempurnakan jilbabnya. Masya Allah, seandainya mereka tahu, mereka akan terlihat anggun dengan pakaian muslimah dengan jilbab menyeluruh, apalagi ditambah dengan pakaian takwa.

Saya menulis ini hanya karena kekhawatiran saya di masa yang akan datang jilbab seksi ini akan dianggap benar dan dijadikan pembenaran bahwa seperti itulah yang diajarkan oleh Islam.

Rasulullah saw pernah melontarkan penglihatannya yang jauh ke depan di mana akan ada suatu masa di mana banyak wanita berpakaian namun sebenarnya tidak berpakaian. Ini sudah terjadi di mana-mana, khususnya mereka yang tidak berjilbab. Tentunya jangan sampai perkataan nabi itu ditujukan juga untuk mereka yang berjilbab namun lekuk-lekuk tubuhnya tergambar jelas dari pakaiannya. Pakaiannya tidak lagi berfungsi untuk menutup aurat.

Semoga kita, keluarga kita, famili kita, sahabat kita, terjaga dari fitnah ini yang merupakan satu dari sekian banyak fitnah yang muncul di fase akhir keberadaan dunia ini.

Wallaahul musta’aan.

Posted by: dhyba | July 22, 2008

Mau ke mana Arah Pendidikan Kita?

Beberapa tahun belakangan ini kita dihadapkan oleh sistem ujian sekolah berskala nasional yang memiliki batasan nilai minimum untuk mencapai sebuah kelulusan. Tidak ada yang salah dengan sistem ini karena di negara lain juga ada standar sejenis. Permasalahannya adalah bagaimana mencapai tingkat kelulusan yang tinggi, kalau perlu 100%?

Kita semua tentu sepakat bahwa level sekolah di setiap tempat berbeda, terlebih sekolah dengan status swasta, mulai dari sekolah yang sudah mapan sampai sekolah yang sarana dan fasilitasnya saja tidak memadai, ditambah lagi dengan para siswa yang kemampuannya di bawah rata-rata. Di lain pihak, pejabat kependidikan di negeri ini, baik itu di level provinsi maupun di level yang langsung berhubungan dengan sekolah-sekolah, menginginkan tingkat kelulusan yang tinggi. Lalu bagaimana caranya mempertemukan dua hal ini, antara kemampuan siswa dengan tuntutan tingkat kelulusan yang tinggi?

Provinsi menginstruksikan target kelulusan mendekati 100%, kalau bisa 100%. Pejabat di kotamadya menerima informasi ini untuk kemudian diteruskan ke pejabat di bawahnya. Karena ingin menyenangkan atasan, maka pejabat level bawah ini menginstruksikan kepada sekolah agar bisa menghasilkan tingkat kelulusan yang tinggi. Mengenai caranya, silakan diatur oleh masing-masing sekolah. Nah, di sinilah kalimat kuncinya. Silakan gunakan cara apapun, yang penting semua anak didik lulus.

Apakah saat ini saya sedang mengigau dengan menulis tulisan di atas? Insya Allah tidak. Itu adalah kenyataan di lapangan yang sudah menjadi rahasia umum, hanya mungkin agak sulit memang untuk membongkar praktik kecurangan ini. Saya percaya tidak semua sekolah melakukan praktik kecurangan semacam ini, tetapi tidak sedikit yang melakukannya.

Bagaimana mereka melakukannya?

Banyak cara, dan mohon maaf, guru-guru kita menjadi semakin cerdas untuk urusan ini dari tahun ke tahun. Aturan diperketat, maka akan muncul inovasi baru di dunia pencontekan yang sayangnya dicontohkan oleh guru-guru kita. Saya sebelum ini menyempatkan diri menjadi guru. Sudah sekitar 6 tahun saya menjadi guru dan akhirnya memutuskan untuk cuti sementara karena akan mengambil program S2 MM. Sekolah tempat saya mengajar dahulu sangat sangat takut untuk melakukan praktik semacam ini, namun karena tuntutan dari pejabat di atas dan juga “tidak ingin mengecewakan” orang tua murid, mau tidak mau akhirnya dilakukan. Perasaan malu dan dosa bercampur baur. Saya tidak tahu bagaimana guru di sekolah lain, yang saya tahu tetangga saya yang juga seorang guru, dia malah bangga bisa memberikan teknologi pencontekkan mutakhir dan terbaru kepada anak didiknya. Naudzu billah.

Benarkah apa yang saya tulis di atas? Terserah bagaimana Anda menilainya. Tetapi, silakan saja diuji. Kumpulkan murid-murid dari sekolah biasa kemudian lakukan tes ulang dan lihat hasilnya. Anggap saja ada 500 orang. Kalau separuhnya bisa lulus, saya anggap tulisan saya ini berarti fitnah.

Fakta lain. Sekolah-sekolah menengah atas favorit dalam beberapa tahun ini agak ketar-ketir dalam menerima murid baru. Koq bisa? Kan tinggal diurut saja dari NEM tertinggi sampai terendah. Ya memang sederhananya seperti itu, based on NEM (saya tidak tahu istilah apa sekarang untuk nilai ujian nasional murni). Masalahnya, NEM saat ini sudah tidak dipercaya murni didapatkan dari kemampuan siswa. Jelas ketar-ketir sekolah favorit karena bisa jadi mereka menerima siswa yang dari sisi nilai ujian nasional sangat memuaskan tetapi pada kenyataannya tidak seimbang dengan kemampuan siswa tersebut. Perusahaan sekarang juga begitu. Mereka tidak lagi melihat NEM karena tidak bisa dijadikan patokan. Lebih baik dilakukan tes.

Kejadian tertangkap basahnya para guru yang memberikan bocoran di salah satu sekolah di Medan dan juga di beberapa sekolah lain, menurut saya, mereka lagi sial saja, kurang beruntung, karena di luar sana bisa jadi lebih banyak lagi yang melakukan hal serupa. Atau, ini hanya sebagai sampel bahwa pemerintah telah melakukan hal yang benar dalam menyikapi isu kecurangan ini. Buat satu kasus yang terungkap untuk melindungi kasus-kasus lain di sekolah-sekolah lain. Tapi saya tidak mau berspekulasi sampai ke sana, termasuk apakah bapak-bapak yang ada di atas sana mengetahui praktik kecurangan semacam ini. Yang menyedihkan dan memalukan kalau ternyata semua isntruksi itu berasal dari mereka. Mau jadi apa negeri ini.

Lantas, mau sampai kapan sistem pendidikan seperti ini dan mau dibawa ke mana arah pendidikan kita?

Kalau pemerintah hanya melihat angka-angka yang tertera dan kemudian memaksakan diri untuk segera sejajar dengan negara lain, minimal dengan Singapura dan Malaysia, dengan menaikkan batas minimum kelulusan setiap tahunnya, maka sebenarnya pemerintah kita telah gagal mengelola pendidikan. “Optimalisasi” pencontekan akan terus dilakukan dan berinovasi seiring dengan terus diterapkannya sistem pendidikan seperti sekarang. Semakin dinaikkan batas kelulusan, maka semakin banyak sekolah yang takut para siswanya tidak lulus, yang berarti semakin banyak partisipan di bidang pencontekan ini, yang sekali lagi dilakukan oleh bapak ibu guru kita tercinta. Selama sistem kelulusan ini masih berjalan, maka bantuan guru ke muridnya pada saat ujian akan terus berlanjut.

Kalau alasannya untuk memudahkan pemetaan, maka sistem dahulu zaman saya sekolah masih bisa dipakai tanpa harus menerapkan batas minimum kelulusan. Sudahkah mereka memikirkan alternatif yang lebih pas?

Saya khawatir kita hanya akan menghasilkan lulusan yang bagus di luar tetapi jelek di kemampuan aslinya. Mau sampai kapan seperti ini? Semoga saja cepat didapatkan solusi terbarunya sehingga mampu menghasilkan lulusan dengan kualitas tinggi yang dibuktikan dengan nilai pencapaian yang tinggi pula.

Kapan?

Posted by: dhyba | July 22, 2008

Macet? Nikmati saja

Berkendara sepeda motor adalah sebuah aktivitas rutin yang saya lakukan, dari rumah menuju kantor dan sebaliknya. Kemacetan tentunya menjadi sarapan pagi yang mau tidak mau harus dilahap. Permasalahannya adalah bagaimana menyikapi kemacetan ini?

Setiap orang punya caranya sendiri-sendiri. Saya yang mulai terbiasa dengan hal semacam ini menikmati saja meskipun pernah telat akibat kemacetan tambahan di luar perhitungan. Saya berpikir, kalau kita emosi, tidak sabar, ngedumel, toh kita tetap terjebak dalam kemacetan. Jadi, nikmati saja kemacetan itu.

Namun, ada yang bikin saya kesal. Itu lho, perilaku berkendara yang tidak mengenal kata disiplin. Yang paling sering saya lihat adalah pengendara sepeda motor yang seenaknya naik ke trotoar yang sedianya diperuntukkan untuk pejalan kaki. Saya adalah seorang biker, tetapi saya sangat tidak suka dengan biker yang menyalahgunakan fungsi trotoar dan melanggar rambu lalu lintas.

Setiap orang memang punya kepentingan. Saya harus sampai kantor maksimal jam delapan tiga puluh. Orang lain mungkin ada janji dengan klien. Yang lain punya kepentingan juga. Semua punya kepentingan. Tapi, kalau ternyata untuk memenuhi kepentingan itu harus mengganggu kepentingan umum, maka kita sudah salah dalam bertindak. Tidakkah kita berpikir keterlambatan kita sampai di kantor, ketidakbisaan kita tepat waktu menemui klien, bisa jadi ada faktor kita di dalamnya. Maksudnya adalah tidak layak bagi kita menyalahkan sepenuhnya kondisi lalu lintas yang macet dan semrawut yang menyebabkan kita tidak bisa memenuhi kepentingan yang sudah kita set sebelum berangkat. Sudah tahu setiap hari Jakarta macet, mbok ya berangkat lebih awal, lebih pagi. Ketika kita tidak mampu berangkat lebih awal dan akhirnya terjebak dalam kemacetan, maka jangan sekali-kali menyalahkan kemacetan. Nikmati saja keterlambatan kita, toh keterlambatan kita itu juga akibat kita telat berangkat. Kalaupun kita sudah berangkat lebih pagi dan tetap terlambat sampai tujuan, maka sekali lagi nikmati saja. Paling-paling potong gaji. Paling-paling klien kita kabur. Nikmati saja.

Posted by: dhyba | July 22, 2008

Penonton Sepak Bola Kita Belum Dewasa

Anda lihat pertandingan Liga Super Indonesia antara Persib Bandung dengan Persija Jakarta Ahad malam kemarin (20 Juli 2008)? Pertandingan yang sebenarnya enak ditonton – untuk kelas Indonesia – menjadi rusak hanya karena penonton yang belum dewasa.

Saya tidak habis pikir, sudah bertahun-tahun Indonesia mengadakan kompetisi, tetapi sampai detik ini penonton kita masih belum beranjak dewasa. Tidakkah mereka menonton Liga Inggris di mana meskipun suporternya dikenal rusuh (hooligans), namun rusuhnya mereka ada waktunya. Kalau judulnya kompetisi domestik, Liga Primer Inggris, maka kita bisa lihatĀ  hampir tidak pernah sesama masyarakat Inggris membuat kerusuhan di stadion hanya karena tim kesayangannya menelan kekalahan.

Fanatisme berlebih. Mungkin ini yang mendorong bobotoh untuk melakukan aksi anarkis. Mereka terlalu cinta terhadap Persib. Saking cintanya, tidak ada dalam kamus mereka kalah di tanah Pasundan. Kalah berarti rusuh.

Ini adalah PR besar bagi pecinta sepak bola tanah air, khususnya mereka yang mengenakan atribut suporter. Mari belajar untuk menjadi dewasa. Siap menang, pun juga siap kalah. Berikan support setinggi-tingginya kepada tim kesayangan Anda. Ketika tim Anda menang, maka sambutlah mereka dengan suka cita. Jika tim Anda kalah, maka berikanlah dukungan moril kepada tim kesayangan Anda supaya mereka bisa tampil lebih baik di pertandingan berikutnya. Sebuah applause akan sangat berharga dan akan membekas dalam diri pemain yang tentunya akan dibayar dengan penampilan yang lebih baik di pertandingan selanjutnya.

Kita harusnya malu jika berbuat rusuh karena itu berarti kita belum dewasa, kita tidak gentlemen, tidak berani menerima kekalahan, tidak mau mengakui kemenangan lawan. Apapun yang terjadi di lapangan, wasit yang tidak becus dalam memimpin pertandingan, reaksi pemain lawan yang mengundang emosi, tentunya harus dihadapi dengan bijaksana. Toh kerusuhan tidak akan menyelesaikan masalah, malah akan merugikan tim kesayangan Anda.

Jadi, saatnya bagi kita untuk menjadi penonton yang lebih dewasa.

Majulah sepak bola Indonesia!

Categories